berharga

berharga means 'worthy' in English. i just want to tell you that our times are worthy, our chances are worthy, every little things we have is worthy. you will never know what it means til it's gone, right? so just take care of it!

Saturday, December 02, 2006

Is It Possible Here?

pagi ini aku beli KOMPAS. ada artikel menarik yang kemarin dah dijanjikan di KOMPAS SABTU. tentang orang2 Indonesia yang ngajar di uni2 luar negeri(dulu pernah kepikiran juga aku!). ok, aku baca artikel tentang perjalanan orang2 tekun dan brilian dalam mencapai posisi pengajar di universitas2 terkenal di LN. sebutlah mereka ngajar di Flinders Uni, Aussie, Thammasat Thailand, Chiba Uni di Jepang,sampai di Eropa.

Tertulislah, mahasiswa2 di Melbourne uni sangat kritis. Juga di Eropa. Kalau mereka gak suka cara ngajar dosen, mereka bisa keluar, jadi dosen dituntut kerja keras untuk bisa menarik perhatian mahasiswa dengan bikin video atau apa lah namanya. Lain di Thailand. Karena kultur kerajaan Thailand yang masih kental (dan apa juga karena kultur budaya itu sendiri?), jadi hubungan antara mahasiswa dan dosen disana punya jarak yang sangat dalam. Mahasiswa susah diajak diskusi.

Diam-diam...aku juga berpikir, pendidikan disini masih berpikir tentang senioritas. masih kental dengan budaya yang ketat menjadi tepi kehidupan kita. Coba lihat, kalau ada murid yang aktif dan kritis, bukannya didukung, salah2 malah dibenci, diingat2, dan dikasih nilai jelek. Karena disini, masih banyak pengajar (gak cuma guru, dosen juga) yang berpikir bahwa "aku benar, dan kamu tidak tahu apa2. pengetahuanmu itu tidak lebih dari aku. kamu disini kan belajar, dan aku mengajar". Mereka memposisikan diri dalam kerangka " AKU MENGAJAR, DAN SELALU MENGAJAR". Padahal jaman terus bergerak, kebutuhan selalu berubah dan bertambah. Anak jaman sekarang tidak cukup hanya mendengar dan menganggukkan kepala, tapi juga perlu bertanya kalau sekiranya ada sesuatu hal yang dia ragukan. Tapi apa? pertanyaan2 itu malah menjadi bumerang buat murid untuk menjadi manusia yang dibenci sang pengajar. Nah lu!

Waktu kuliah, gak sedikit dosen yang kemampuan mengajarnya diragukan. Dia memang pintar setengah mati,menjulang langit, tapi gak bisa tuh transfer ilmu dengan baik. Intinya kan itu. bukan hanya memberi, tapi MENTRANSFER. Kalau seorang dosen mengampu mata kuliah yang 'ngeri' / 'njelehi' kayak Filsafat, atau **** (di tempatku dulu), pasti dari lubuk hati yang paling dalam, mahasiswa dah muak ndengerin. Apalagi dosen gak pintar menyampaikan. Cuma minta mahasiswa mendengarkan atau bahkan mencatat selama pelajaran. 1.45 menit nyatat? gitu terus? Kapan kita punya waktu bicara dan konsultasi dengan dosen? Sedangkan dosen itu gak mau ditemui di rumah/sulit ditemui di fakultas. Duh! Susah kali mau jadi pinter.

Ada lagi cerita, waktu itu dosen lagi sibuk cerita tentang satu legenda. Aku sudah sering dengar legenda itu (dari dosen yang sama)2 kali. dan tidak pernah sampai endingnya. terus suatu hari aku tanya, "pak, akhir ceritanya bagaimana ya?saya belum pernah tahu tentang akhirnya?" dosen cuma senyum, jawab gak nyambung, salah2 malah terpampang nilai D buatku untuk mata kuliahnya. Gubrak! Alhasil, aku harus mengulang lagi, dan diam di kelas, memperhatikan dia, dapat B deh!

mengenaskan lagi temanku, (dengan dosen yang sama itu..), dia diingat2 dosen itu dari semester2 awal kuliah. (gak tahu apa dosa dia? sama kayak aku kalee..). sialnya, dia pendadaran dapat dosen penguji utama dia..nilai yang keluar B-!

kenapa prinsip "kamu belajar, aku mengajar" tidak dirubah dikit...aja dengan "mari kita sama-sama belajar". toh manusia tidak ada yang sempurna? kenapa budaya senioritas itu dibawa ke dalam kelas yang seharusnya membentuk generasi2 hebat dan bisa bersaing? kenapa tidak meniru sistem di LN (toh baik2 aja), bahwa uni dengan tegas menerapkan equal opportunity antara pengajar dan mahasiswa. meskipun bebas, tapi tetap ada sikap menghargai diantara keduanya. Tapi is it possible here?....

0 Comments:

Post a Comment

<< Home